*Hemat Air hingga 30 Persen dan Turunkan Emisi, Teknologi AWD IoT dari Tim Mannennungeng UKM KPI Unhas Dorong Pertanian Berkelanjutan di Bone*

CAKRAWALAINFO.CO.ID, BONE — Teknologi pertanian ramah lingkungan kembali menunjukkan peran strategisnya dalam menjawab tantangan perubahan iklim dan keterbatasan air. Tim Mannennungeng PPK Ormawa UKM KPI Universitas Hasanuddin menerapkan sistem Alternate Wetting and Drying (AWD) berbasis Internet of Things (IoT) di Desa Kajaolaliddong, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (1/7/2026.

 

Sebagai bagian dari program pemberdayaan masyarakat berbasis pertanian cerdas.

 

Metode AWD mengatur siklus basah dan kering pada lahan sawah secara bergantian. Sistem ini memungkinkan tanah memperoleh oksigen saat periode pengeringan, sehingga mampu menekan produksi gas metana (CH₄)—salah satu gas rumah kaca dengan dampak pemanasan global 28 kali lebih besar daripada karbon dioksida. Dengan memutus siklus penggenangan terus-menerus, aktivitas mikroorganisme metanogen dihambat, sehingga emisi gas rumah kaca dari lahan sawah dapat dikurangi secara signifikan. Hal ini menjadikan AWD sebagai solusi konkret untuk pertanian rendah emisi.

 

Selain itu, penerapan AWD juga menghemat air irigasi hingga 15–30 persen. Efisiensi ini tidak hanya mengurangi biaya produksi petani, tetapi juga menekan risiko kekeringan di musim kemarau. Pengurangan limpasan pupuk dan pestisida ke badan air juga menjadi manfaat tambahan yang mendukung kelestarian lingkungan. Dengan demikian, AWD memberikan keuntungan ganda: ekonomi dan ekologi.

 

Keberhasilan AWD dalam menurunkan emisi dan menghemat air telah diakui dalam berbagai skema internasional, seperti Japan’s Joint Crediting Mechanism (JCM), Verra (VCS), Gold Standard, dan Thailand Voluntary Emission Reduction Program (T-VER). Pengakuan ini membuka peluang bagi petani untuk memperoleh pendapatan tambahan dari perdagangan kredit karbon.

 

Di Filipina, metodologi AWD telah resmi disetujui dalam skema JCM sejak 2025, menjadikannya salah satu praktik pertanian yang dapat menghasilkan kredit karbon. Potensi ini diperkirakan akan terus berkembang seiring dengan meningkatnya permintaan pasar global terhadap proyek-proyek mitigasi perubahan iklim.

 

Tim Mannennungeng mengintegrasikan teknologi sensor IoT untuk memantau kondisi lahan secara real-time. Data yang dihasilkan memungkinkan petani menentukan waktu pengairan dan pengeringan secara lebih presisi, sehingga pengelolaan irigasi menjadi lebih efisien dan terukur. Teknologi ini juga membantu petani menghindari kesalahan dalam penerapan AWD yang dapat mengurangi efektivitas metode.

 

Pendampingan dan edukasi juga diberikan kepada petani agar mereka mampu mengadopsi teknologi ini secara mandiri dan berkelanjutan. Tim secara rutin melakukan kunjungan lapangan, diskusi, dan pelatihan teknis untuk memastikan pemahaman yang mendalam tentang prinsip kerja AWD dan manfaatnya. Pendekatan partisipatif ini bertujuan membangun kemandirian petani dalam mengelola sistem pertanian modern.

 

Ke depan, adopsi AWD diproyeksikan semakin luas seiring dengan dukungan kebijakan pemerintah dan semakin tingginya kesadaran akan pentingnya pertanian berkelanjutan. Program ini diharapkan menjadi model pengembangan pertanian cerdas yang mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi sumber daya, serta mendukung target pembangunan rendah emisi di Indonesia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *