Burhanuddin, S.P.: Dari Sarjana Unhas Menjadi Ketua Kelompok Tani dan P4S, Sosok di Balik Kebangkitan Pertanian Bone.

CAKRAWALAINFO. CO. ID, BONE — Di sebuah sudut Desa Kajaolaliddong, Kecamatan Barebbo, Kabupaten Bone, ada seorang pemuda yang menolak disebut sebagai petani biasa. Baginya, pertanian adalah panggilan hidup dan jalan untuk membawa perubahan. Burhanuddin, S.P., atau yang akrab disapa Kak Handy, adalah alumni Fakultas Pertanian, Sulawesi Selatan (6/8/20226)

Universitas Hasanuddin angkatan 2016. Setelah lulus pada 2021, ia memilih kembali ke kampung halaman dan bergabung dengan Kelompok Tani Mabbiring.

Keputusan itu bukan tanpa alasan. Baginya, sektor pertanian menjanjikan dan menawarkan gaya hidup yang lebih tenang—sebuah pelarian dari hiruk-pikuk kota. Namun lebih dari itu, ia melihat adanya kebutuhan mendesak akan regenerasi petani. “Petani kita rata-rata sudah tua. Kita butuh anak-anak muda untuk turun ke sawah,” ujarnya.

Keinginan itu tak berhenti pada perkataan. Pada 2023, Burhanuddin mendirikan Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Lamellong sebagai wadah pembelajaran bagi petani dan sarjana pertanian. Dua tahun kemudian, ia dipercaya menjadi Ketua Kelompok Tani Mabbiring, menggantikan ketua sebelumnya yang sudah sepuh.

Sebagai petani termuda di kelompoknya, Burhanuddin mengakui bahwa memimpin para petani senior adalah tantangan besar. Namun ia menjalaninya dengan pendekatan yang penuh tanggung jawab dan ketulusan.

Kiprah Burhanuddin mendapat angin segar ketika Tim PPK Ormawa UKM KPI Universitas Hasanuddin datang dengan Program, Mannennungeng: Smart Hydro Loop, Burhanuddin menjadi jembatan antara mahasiswa dan masyarakat, sekaligus ujung tombak penerapan teknologi AWD berbasis IoT di desanya. “Kami tidak hanya didampingi secara teknis, tetapi juga dihubungkan dengan berbagai instansi. Petani sangat antusias, terutama karena ada teknologi baru yang bisa mereka pelajari,” katanya.

Sebagai Ketua P4S Lamellong, Burhanuddin memiliki visi besar. Ia ingin lembaga itu menjadi pusat inovasi dan pelatihan pertanian yang mandiri, tidak hanya bagi petani di Kajaolaliddong, tetapi juga untuk petani dari desa lain. “Apa yang ditinggalkan tim Mannennungeng akan kami teruskan,” tegasnya.

Ia juga mencatat perubahan signifikan yang mulai terasa. “Kesadaran masyarakat terhadap pertanian modern meningkat. Petani muda mulai tertarik menjadi teknisi dan pelaku inovasi,” ujarnya. Bagi Burhanuddin, kehadiran mahasiswa tidak hanya membawa teknologi, tetapi juga semangat gotong royong yang selama ini mulai luntur. “Mereka adalah tim yang solid dan penuh disiplin ilmu. Banyak pengetahuan baru yang kami dapatkan dan kami saling bertukar pikiran,” kenangnya.

Kini, di tengah hasil panen yang melonjak dari 3 ton menjadi 5,3 ton per hektare di lahan demplot, Burhanuddin tersenyum. Harapannya sederhana: Kelompok Tani Mabbiring menjadi contoh kelembagaan tani yang kuat, dan P4S Lamellong menjadi pusat pembelajaran yang melahirkan inovator-inovator pertanian baru. “Keterlibatan semua elemen adalah kunci,” ujarnya. Dan untuk generasi muda, pesannya selalu sama: “Tanpa pangan, kita tidak akan bertahan. Sudah saatnya anak muda turun ke sawah.”

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *