PLN Jelaskan Pemadaman Bergilir di Jeneponto: Pengaturan Beban Sistem, Bukan Sengaja Dipadamkan

filter: 101; fileterIntensity: 0.4; filterMask: 0; hdrForward: 0; module: photo;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 8;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;HdrStatus: off;albedo: ;confidence: ;motionLevel: -1;weatherinfo: null;temperature: 38;

CAKRAWALAINFO. CO. ID, JENEPONTO — Pemadaman listrik bergilir yang berlangsung di Kabupaten Jeneponto mendapat penjelasan resmi dari PT PLN (Persero). Pihak ULP Jeneponto menegaskan bahwa pemadaman tersebut bukan merupakan kebijakan sepihak maupun tindakan kesengajaan dari unit pelayanan setempat.

Manager PLN ULP Jeneponto, H. Asmar Arief, menjelaskan pemadaman dilakukan sebagai bagian dari pengaturan beban akibat keterbatasan pasokan listrik dalam sistem interkoneksi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat.

“Kami hanya menerima perintah untuk menjaga kelancaran sistem. Kalau pasokan tidak mencukupi, pemakaian harus dikurangi. Jadi kami hanya mengeksekusi pengaturan beban tersebut, bukan menentukan secara sepihak wilayah mana yang harus dipadamkan,” jelas Asmar Arief, Senin (7/9/2026).

Pengaturan beban ini dilakukan untuk mencegah gangguan yang lebih besar terhadap sistem kelistrikan secara keseluruhan. PLN juga berupaya mengatur pembagian wilayah agar dampak pemadaman dapat didistribusikan secara merata.

“Tidak ada unsur kesengajaan untuk memadamkan listrik. Kami justru tidak ingin padam karena kami juga yang berhadapan langsung dengan masyarakat,” tegasnya.

Sementara itu, Asisten Manajer Keuangan dan Umum UP3 Bulukumba, Lisa, menjelaskan bahwa wilayah kerja mencakup lima kabupaten: Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, Sinjai, dan Kepulauan Selayar. Pemadaman akibat pengaturan beban juga dirasakan oleh internal PLN, bahkan kantor-kantor mereka sendiri turut terdampak.

“Kami sangat memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan. Kami sebagai pegawai PLN juga turut merasakan pemadaman. Tentunya kami berharap listrik bisa menyala 24 jam nonstop,” ujar Lisa.

Ia menegaskan bahwa kelistrikan Jeneponto merupakan bagian dari satu sistem interkoneksi Sulawesi yang saling terhubung. Ketika terjadi kekurangan daya, pengaturan beban dilakukan secara menyeluruh, sehingga yang terdampak bukan hanya Jeneponto melainkan wilayah lain juga.

Pasokan listrik ke Jeneponto berasal dari PLTU Jeneponto, PLTB Tolo, serta jaringan transmisi interkoneksi. Saat ini sedang dilakukan pembenahan infrastruktur pada sejumlah pembangkit yang menyebabkan pasokan belum mencukupi kebutuhan seluruh wilayah Sulselrabar.

Terkait informasi sebelumnya yang menyebutkan kondisi akan normal pada 5 September, Lisa menjelaskan tanggal tersebut adalah target dan harapan PLN. Pada tanggal itu PLTU Jeneponto sudah mulai menyuplai tambahan sekitar 125 megawatt, namun mesin membutuhkan proses penyalaan dan pemanasan sebelum beroperasi maksimal.

“Dengan tambahan 125 megawatt, kami sangat terbantu. Pemadaman bergilir mulai berkurang sejak 6 September, meskipun belum sepenuhnya hilang karena masih ada kendala di pembangkit lain,” ungkapnya.

Selain perbaikan pembangkit, faktor cuaca serta ketersediaan bahan bakar dan sumber energi juga turut memengaruhi kemampuan sistem.

Menanggapi pertanyaan masyarakat mengapa Jeneponto tetap padahal memiliki pembangkit sendiri, PLN menjelaskan energi yang dihasilkan masuk ke dalam sistem bersama dan didistribusikan secara menyeluruh, bukan hanya untuk wilayah setempat.

PLN memastikan terus berupaya memulihkan pasokan dan meminimalkan gangguan.

“Kami memahami keresahan masyarakat. Kami terus berupaya agar kondisi kelistrikan segera kembali normal dan pelayanan berjalan optimal,” pungkas Lisa.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *