CAKRAWALANFO.CO.ID, JENEPONTO — Hari ini, umat manusia di seluruh dunia patut bersyukur dan berterima kasih kepada Nabi Muhammad SAW. Melalui peristiwa Isra Mikraj, bukan hanya umat Islam, tetapi bumi dan seluruh isinya memperoleh pedoman fundamental yang menata kehidupan spiritual dan sosial manusia secara berimbang dan beradab, jeneponto Sulawesi Selatan (16/1/2026).
Peristiwa Isra Mikraj merupakan momentum agung dalam sejarah Islam yang menegaskan kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan kesempurnaan manusia di bumi. Dalam satu malam, Rasulullah SAW diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu diangkat ke Sidratul Muntaha untuk menerima perintah salat. Al-Qur’an mengabadikan peristiwa ini dalam Surah Al-Isra ayat 1 sebagai bukti kekuasaan Allah dan kemuliaan Rasul-Nya.
Isra Mikraj tidak semata peristiwa spiritual, tetapi mengandung pesan sosial yang mendalam. Kewajiban salat menjadi sarana pembentukan manusia yang utuh menjaga hubungan dengan Allah (hablum minallah) sekaligus membangun tanggung jawab sosial (hablum minannas).
Rasulullah SAW bersabda, “Salat adalah tiang agama” (HR. Tirmidzi), yang menunjukkan bahwa kekuatan moral masyarakat berakar pada kualitas spiritual individu.
Kesempurnaan Nabi Muhammad SAW juga tercermin dalam akhlak dan kepemimpinan sosialnya. Dalam hadis disebutkan, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR. Ahmad). Akhlak inilah yang menjadi fondasi keadilan, empati, dan perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat.
Sejalan dengan pemikiran Ibnu Khaldun, manusia adalah makhluk sosial yang membangun peradaban (umran) melalui solidaritas (asabiyyah). Isra Mikraj memberi legitimasi spiritual bagi Nabi untuk membangun masyarakat Madinah yang beradab.
Dengan demikian, Isra Mikraj menegaskan Nabi Muhammad SAW sebagai manusia paripurna penyatu spiritualitas dan tatanan sosial bagi peradaban dunia.












