CAKRAWALAINFO.CO.ID, MAKASSAR– Dalam empat tahun terakhir, jumlah gelandangan, pengemis, anak jalanan, dan manusia silver di Kota Makassar terus meningkat. Dinas Sosial (Dinsos) mengakui perlunya pendekatan baru guna mengatasi persoalan sosial ini secara lebih efektif.
Salah satu strategi yang kini dijalankan adalah pendirian sembilan pos pengawasan di lokasi-lokasi yang dianggap rawan aktivitas jalanan. Posko ini melibatkan kerja sama antara Satpol PP, pemerintah kecamatan, dan elemen sosial lainnya.
Zuhur Dg Ranca, Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinsos Makassar, menyebutkan bahwa patroli akan diperkuat di sembilan titik tersebut.
“Patroli ini diharapkan memberikan efek psikologis kepada para pengamen jalanan, gelandangan, hingga manusia silver agar berpikir ulang untuk beraktivitas di jalan,” ujarn Zuhur kepada wartawan, Sabtu 5 Juli 2025
Selain menjaga ketertiban umum, posko ini juga menjadi sarana edukasi untuk masyarakat agar tidak lagi memberi uang secara langsung kepada pengemis atau anak jalanan.
“Melalui patroli rutin, kami berharap dapat memutus rantai eksploitasi dan ketergantungan terhadap kehidupan di jalanan,” tambahnya.
Dinsos kini fokus memperkuat langkah penanganan terhadap anak jalanan, gelandangan, dan pengemis (Anjal Gepeng), termasuk fenomena manusia silver, dengan membentuk posko-posko pengawasan di berbagai titik strategis, seperti Fly Over, Jalan Pengayoman, Mallengkeri, Pajonga Dg. Ngalle, Jalan Sudirman, Sungai Saddang, Masjid Raya, Pintu 1 Unhas, hingga Simpang Lima Bandara.
Upaya ini turut melibatkan elemen sosial seperti Tagana, TKSK, FPSM, dan Karang Taruna, untuk memastikan pendekatan yang lebih kolaboratif.
Menurut Zuhur, penertiban bukan satu-satunya tujuan, melainkan juga untuk menyampaikan pesan edukatif kepada masyarakat—terutama pengendara—agar tidak lagi memberikan sumbangan secara langsung di jalan.
“Setiap posko juga akan dilengkapi dengan papan imbauan sebagai bentuk sosialisasi agar masyrakat tidak mudah memberi sumbangan ke jalan secara langsung,” jelasnya.
Pemerintah Kota Makassar turut mengajak masyarakat mendukung langkah ini dengan menyalurkan bantuan melalui lembaga sosial resmi yang terdaftar dan terverifikasi.
Zuhur menegaskan bahwa pengawasan di sembilan titik tersebut akan dilakukan secara terus-menerus. Bahkan, tiga titik utama akan menjadi prioritas.
“Patroli akan digelar rutin dan berkelanjutan. Harapannya, masyarakat jalanan bisa beralih dari jalan dan kembali ke lingkungan sosial yang lebih sehat,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kota Makassar, Andi Bukti Djufrie, menyampaikan bahwa petugas akan ditempatkan di beberapa perempatan jalan yang kerap menjadi tempat aktivitas pengemis atau manusia silver.
Mereka akan membawa spanduk berisi imbauan kepada pengendara agar tidak memberikan uang langsung kepada para pelaku jalanan.
“Kami tempatkan petugas di titik-titik tertentu dengan membawa spanduk berisi ajakan untuk tidak memberi di jalan. Ini bagian dari edukasi bahwa kepedulian sosial seharusnya disalurkan melalui cara yang benar,” ujarnya.
Selain patroli langsung, penyadaran masyarakat juga digencarkan melalui media sosial dan kanal informasi lainnya.
Andi Bukti menekankan bahwa memberi di jalan bukanlah solusi jangka panjang, justru bisa memperparah ketergantungan dan membuka celah bagi praktik eksploitasi.
“Kami akan gencarkan sosialisasi, bahkan tak menutup kemungkinan ada sanksi bagi mereka yang tetap memberikan uang di jalanan,” pungkasnya.






